Category: Perkawinan

Trik Mengatasi Ejakulasi Dini

Trik Mengatasi Ejakulasi Dini

Fakta membuktikan bahwa sebagian pria tidak dapat memuaskan pasangannya daat bercinta. Pria yang seperti ini biasanya mengalami ejakulasi yang terlalu cepat, sementara pasangannya belum mencapai apa-apa. Pertanyaannya kini, bagaimana mengatasi ejakulasi dini?

Hingga kini belum ada obat yang terbukti efektif mengobati ejakulasi dini. Tapi menurut Andreas Lee Tan dalam bukunya Seni Menikmati Seks, ada beberapa trik atau teknik tertentu yang cukup efisien menunda ejakulasi. Dengan teknik tersebut Anda dapat memperpanjang permainan seks dan bisa memuaskan pasangan.

1. Variasikan pola gerakan

Saat melakukan penetrasi di Miss V, jangan melakukan gerakan yang monoton. Lakukan variasi gerakan antara tusukan dalam dan tusukan dangkal. Secara berkala Anda sebaiknya menghentikan gerakan sama sekali saat Mr P masih di liang Miss V sementara Anda bisa tetap melakukan kegiatan seks yang lain seperti mencumbu bibir atau payudaranya.





Gerakan yang bervariasi seperti ini selain bisa menunda ejakulasi, juga bisa membuat pasangan terangsang karena dia berpikir dan menebak-nebak apa yang akan Anda lakukan selanjutnya.

2. Kencangkan otot pubokoksigeus Anda

Teknik ini memerlukan otot pubokoksigeus (otot yang terletak di bagian bawah penis dekat anus) yang kuat. Otot ini bisa dilatih dengan metode kegel. Jika Anda merasa akan mendekati ejakulasi, berhentilah melakukan gerakan penetrasi. Tarik penis Anda kira-kira satu inci tapi jangan semuanya. Kencangkan otot yang dimaksud dan tahan selama 10 detik, lalu kembalikan gerakan dengan tusukan dangkal.

3. Tekanan pada perineum

Teknik ini sederhana dan telah dipraktikkan selama ribuan tahun di China. Sebelum terjadi ejakulasi, gunakan tiga telapak jari Anda untuk memberikan tekanan pada perineum, yaitu daerah mengalirnya mani antara skortum dan anus. Lakukan latihan ini saat masturbasi atau onani karena untuk menemukan tempat yang tepat agak sulit.

4. Ubah stimuli

Jika Anda sangat terangsang tapi tidak di ambang ejakulasi, berhentilah melakukan gerakan dan berhubungan seks dengan pasangan secara manual atau oral. Dengan mengubah stimuli Anda dapat mengatur kapan saat yang tepat untuk ejakulasi.

Dengan menggunakan teknik ini Anda dan pasangan dapat berhubungan intim lebih lama. Selain itu, Anda pun dapat memuaskan pasangan Anda. (okezone)

Popularity: 23% [?]

Gaya Komunikasi Suami Istri

Gaya Komunikasi Suami Istri

Apakah Anda mempunyai hubungan yang harmonis dengan suami/istri? Sudahkah Anda berkomunikasi secara baik dan terbuka dengannya? Jika semua jawaban adalah ‘tidak’, berarti ada yang salah dalam cara Anda berkomunikasi. Pasangan suami istri sebaiknya tidak membiarkan kondisi seperti ini berlarut-larut karena hal ini bisa membawa Anda ke masalah yang lebih besar.

Sebelum mengatasi masalah ini, Anda harus tahu terlebih dulu apa gaya komunikasi Anda sekarang. Berikut empat gaya komunikasi :

Gaya mengontrol
Pasangan suami istri yang menggunakan gaya komunikasi ini biasanya tidak mau mendengarkan opini pasangannya dan cenderung untuk menghindari perbedaan pendapat. Contoh : jika istri memulai percakapan, suami tidak mau mendengar; malah memotong pembicaraan istri dengan berbicara lebih panjang lebar. Atau percakapan ini bisa menjadi pertengkaran dengan saling berteriak satu sama lain tanpa ada yang mau mendengar.

Dalam situasi ini, istri sebenarnya membutuhkan saran atau solusi, tidak hanya instruksi / perintah dari suami. Seorang ahli menyatakan bahwa suami istri yang menerapkan gaya ini tidak mau menghargai perasaan dan pendapat pasangannya serta cenderung untuk memaksakan kehendaknya sendiri. Bagi mereka, menjadi ‘yang paling benar’ adalah lebih penting daripada berusaha untuk menjaga keharmonisan hubungan.

Gaya konvensional
Tidak ada diskusi atau percakapan terbuka mengenai masalah-masalah penting pada suami istri yang menggunakan gaya ini. Suami atau istri cenderung untuk menghindari diskusi dengan mengalihkan perhatian ke hal lain yang tidak berkaitan.





Contoh: jika istri ingin membicarakan masalah anak, suami berusaha menghindar dengan mengalihkan topik pembicaraan ke hal lain yang sederhana seperti cuaca atau kegiatan sehari-hari. Seorang ahli mengatakan bahwa komunikasi yang terjadi hanyalah komunikasi semu dimana terjadi kurangnya penghargaan terhadap perasaan pasangan.

Gaya spekulatif
Suami istri umumnya sudah berpikiran terbuka untuk menerima dan menghargai ide dan pendapat pasangan, tetapi pengguna gaya ini biasanya menghabiskan waktu dengan lebih banyak saling bertanya daripada mengekspresikan perasaannya masing-masing.

Contoh: suami mau mengajak istri untuk menemaninya dalam suatu perjalanan bisnis. Bukannya langsung mengajak istri, suami malah banyak bertanya dan berusaha menebak-nebak sendiri bagaimana perasaan dan keinginan istri. Pembicaraan berkembang menjadi saling bertanya dan biasanya berakhir begitu saja tanpa ada solusi yang jelas.

Dalam situasi ini, suami istri bukan hanya tidak mengekspresikan perasaan sebenarnya tetapi juga malah ‘berputar-putar’ di sekitar topik yang dibicarakan. Hal ini menyebabkan sering timbulnya kesalahpahaman antara suami istri.

Gaya Kontak Penuh
Gaya ini diterapkan suami istri yang mau mendengar dan menghargai opini pasangannya. Mereka tidak ragu untuk mendiskusikan setiap masalah penting dan mengekspresikan keinginannya masing-masing. Suami istri ini selalu berusaha untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan membina komunikasi yang terbuka dan saling menghargai.

Dari semua gaya komunikasi di atas, gaya kontak penuh adalah yang paling tepat untuk diterapkan oleh setiap pasangan suami istri yang ingin tetap menjaga keharmonisan dalam pernikahan mereka.

Jadi, apa gaya komunikasi Anda?

Popularity: 20% [?]

Rumput Tetangga Lebih Hijau?

Rumput Tetangga Lebih Hijau?

Jika Anda dan pasangan merasa pasif dalam perkawinan, janganlah terburu-buru iri terhadap pasangan lain. Karena ada pasangan yang dari luar terlihat atraktif, Anda jadi tertarik, dan berharap kalau saja pasangan Anda seperti sosok pasangan tersebut.

Kecenderungan untuk membandingkan perkawinan/pernikahan sendiri dengan orang lain, cuma mendatangkan kegelisahan. Padahal setiap perkawinan mempunyai problem yang berbeda. Entah alasan untuk menikah, umur saat menikah, lama atau tidaknya mereka berkenalan, si istri bekerja atau ibu rumah tangga, semua ini mempengaruhi nilai mereka terhadap perkawinan. Jadi, harapan yang dimunculkan kemudian bisa berbeda-beda.

Orang yang gundah karena membandingkan dirinya dengan orang lain ini seharusnya bisa membuka mata hati lebih lebar. Sebetulnya, apa yang ditampilkan orang lain belum tentu sesuai buat dirinya. Bagaimana cara agar rumput di halaman sendiri sehijau (atau bahkan lebih hijau) daripada rumput tetangga ? Yang paling penting adalah tidak iri atau menginginkan seperti pasangan lain. Menyadari bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna.  Dan bisa menerima apa adanya, sehingga dapat menciptakan pernikahan yang sempurna. Dengan cara ini kita akan lebih rileks menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Hikmah lainnya, ikatan kebersamaan jadi lebih mudah diciptakan. Termasuk keinginan untuk tetap berkembang sesuai dengan kepribadian masing-masing.





Jadi, daripada membanding-bandingkan diri dengan pasangan lain, akan lebih baik jika tiap pasangan mencari ‘celah‘ yang membuat mereka tetap berbahagia. Komunikasi jelas perlu, tetapi jangan malah membuat pihak lain merasa integritas pribadinya terganggu. Kompromi-kompromi lain juga sebaiknya dilakukan. Upayakan agar harapan dan nilai dalam perkawinan bisa diarahkan lebih terfokus. Misalnya, seberapa banyak waktu senggang yang bakal dialokasikan untuk keluarga, dan kapan waktu khusus untuk berdua.

Keberhasilan tiap pasangan melakukan kompromi-kompromi dalam kehidupan mereka memang sangat bergantung dari kedewasaan, kenyamanan pasangannya. Jadi, daripada meneropong rumput di halaman orang lain yang belum tentu hijau, kenapa tidak menikmati kehijauan rumput di halaman sendiri. (f-buzz)

Popularity: 20% [?]