Gangguan Tidur Pada Anak (bagian 2)

Masalah gangguan tidur pada anak-anak, ternyata lebih gawat dari yang diduga. Dr. Alfred Wiater pimpinan rumah sakit anak-anak di Köln-Porz bekerjasama dengan rumah sakit anak-anak Universitas Köln melakukan penelitian penyakit gangguan tidur ini pada murid sekolah dasar. Hasilnya amat mencemaskan. Karena banyak anak-anak menderita gangguan tidur, namun tidak mendapat pengobatan yang tepat.
Pimpinan rumah sakit anak-anak Köln Porz, Dr. Alfred Wiater mengatakan :
“Penelitian di Köln dengan 13.500 responden anak-anak menunjukkan, sekitar 20 persen murid sekolah dasar mengalami gangguan tidur. Karena itu kita harus menarik pelajaran penting dari fenomena ini.“
Anak-anak yang kualitas tidurnya buruk, akan ngantuk pada keesokan harinya. Mereka menjadi tidak tenang, labil, hyperaktif atau malahan sangat lesu. Di sekolah mereka sulit berkonsentrasi. Pertumbuhannya juga terganggu, karena hormon pertumbuhan biasanya aktif pada saat tidur.
Dua pertiga kasus gangguan tidur terjadi dalam rentang waktu cukup panjang. Diagnosanya juga tidak mudah. Karena terdapat berbagai faktor penyebab. Karena itu, untuk menegakkan diagnosa anak-anak harus tidur semalam suntuk di laboratorium penelitian di rumah sakit Köln-Porz.
Juga Vanessa menjalani pemeriksaan dengan pencatat ritme jantung EKG. Tapi itu bukan pemeriksaan satu-satunya. Ia juga diperiksa dengan peralatan tomografi, röntgen paru-paru, pemeriksaan telinga, hidung dan tenggorokan serta pengambilan sampel darah. Hasilnya, Vanessa memiliki amandel yang terlalu besar. Juga di hidungnya terdapat polyp. Dokter melakukan operasi pengangkatan polyp dan amandelnya. Kini Vanessa sembuah dari gangguan tidur. Berat badannya naik dari semula hanya 13 kg menjadi 19 kg. Ibunyapun dapat tidur nyenyak. (dw-world)







Leave a Reply