Gangguan Tidur Pada Anak (bagian 1)

Selama ini terdapat anggapan umum bahwa anak-anak dapat tidur dengan nyenyak dimanapun dalam suasana apapun. Tapi aksioma itu ternyata keliru. Lebih dari 20 persen anak-anak mengalami gejala gangguan tidur.
Anak-anak selalu dapat tidur nyenyak. Jika mengantuk, tidak peduli suara musik amat kencang atau saudaranya berteriak-teriak, anak akan tidur lelap. Demikian anggapan sebagian besar orang dewasa. Ternyata hasil penelitian yang dilakukan rumah sakit anak-anak di kota Köln Jerman menunjukan data berbeda. Sekitar 20 persen anak-anak menderita gangguan tidur. Jika anak-anak mengalami masalah dengan siklus tidurnya selama dua atau tiga hari berturut-turut, dampaknya akan sangat buruk. Terlebih lagi mereka yang juga dibebani banyak tuntutan prestasi di sekolah. Anak yang mengalami gangguan tidur biasanya sulit berkonsentrasi. Prestasinya merosot dan mengalami depresi.
Vanessa berumur 6 tahun dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit anak-anak Köln-Porz. Mukanya pucat. Di bawah matanya terlihat lingkaran gelap, yang menandakan ia kurang tidur. Ketika tidur Vanessa selalu ngorok. Demikian tutur ibunya Nicole Hasselbach. Tapi ngorok bukan masalah satu-satunya. Dalam semalam Vanessa berhenti bernafas beberapa kali. Tentu saja gejala ini amat mengkhawatirkan orang tuanya.
Ibu Vanessa, Nicole Hasselbach juga kurang tidur. Ia menceritakan penderitaan anaknya dan kecemasannya setiap malam. “Setiap malam paling banyak saya tidur hanya satu jam. Karena saya terus mendengarkan nafas Vanessa dan selalu terjaga. Apakah tidak ada masalah? Atau kalau Vanessa bangun, apakah ia tidak merasa takut? Begitu setiap malam. Sangat melelahkan.“
Tahun lalu gejala gangguan tidur yang diderita Vanessa semakin gawat. Suara ngoroknya semakin keras. Dan kadang-kadang selama 30 sampai 40 detik ia berhenti bernafas. Setiap malam masalah semakin bertambah parah. (dw-world)









Leave a Reply