Rasa Takut Pada Si Kecil
Ketakutan adalah kondisi alamiah yang membantu individu melindungi diri dari bahaya. Pada anak berusia batita, rasa takut yang dialami masih sebatas pada hal-hal spesifik, seperti; takut pada anjing, gelap, atau bertemu orang asing.
Rasa takut, adalah konsep yang dipelajari oleh anak. Sumber pembelajarannya dapat berasal dari berbagai sumber, misalnya film kartun dan tayangan televisi lain. Orang tua juga berperan mengembengkan rasa takut pada anak, misalnya tanpa sengaja menakut-nakutinya.
Ekspresi ketakutan anak bisa macam-macam. Biasanya lewat tangisan, jeritan, bersembunyi atau tak mau lepas dari orang tuanya. Namun saat anak merasa aman dengan diri sendiri atau lingkungan, rasa takut itu akan sirna. Jika si kecil sudah terlanjur memiliki rasa takut, apakah yang dapat dilakukan?
Memberi rasa aman
Orang tua harus menyadari bahwa anak membutuhkan rasa aman dan nyaman. Jika tidak ada dorongan dari orang tua untuk mengatasi rasa takut maka tidak tertutup kemungkinan ketakutan tersebut menjadi fobia. JIka tidak segera diantisipasi, jiwa si anak tidak berkembang dan tidak akan pernah merasa aman dan nyaman di lingkungannya.
Meluangkan waktu
Ada baiknya pula orang tua meluangkan waktu untuk mendengarkan dengan telinga dan hati, alasan ketakutkan anak. Tentunya tak sekadar menyimak pembicaraan si kecil, berilah dukungan yang positif dan penjelasan yang menenangkan agar anak dapat mengatasi rasa takutnya.
Setiap rasa takut perlu ditangani secara tepat. Berikut beberapa rasa takut yang sering dialami anak:
Takut Berpisah
Anak cenderung cemas ketika harus berpisah dari orang terdekatnya. Terutama ibu, yang selama 3 tahun pertama menjadi figur terdekat. Figur terdekat tak selalu berarti ibu kandung, melainkan pengasuh, kakek-nenek, ayah, atau siapa saja yang dekat dengan anak. Akibatnya bila anak ditinggal oleh figur terdekatnya, ia cenderung rewel, bisa jadi tidak mau sekolah, dan sulit dibujuk.Cara Mengatasi: Jelaskan pada anak, mengapa seseorang harus pergi. Jika tak bisa pulang sesuai waktu yang dijanjikan, beri tahu anak lewat telepon. Sebab, anak akan terus menunggu. Kondisi menunggu yang tak jelas justru menambah rasa takut anak. Ia akan terus bertanya-tanya, mengapa orang terdekatnya tak kunjung datang.
Takut masuk sekolah
Saat anak mulai masuk kelompok bermain, ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Hal tersebut tidak mudah dilakukan oleh anak. Di sisi lain, orang tua seringkali tidak tega melepas anaknya sendirian. Terlebih jika mencemaskan anak beraktivitas tanpa pengawasan, misalnya terjatuh saat bermain atau didorong teman.Cara Mengatasi: Orang tua perlu mengantar anak ke sekolah. Temani anak beberapa saat, kemudian katakan padanya bahwa Anda perlu pergi sebentar. Beri pengertian bahwa ada guru yang akan menemaninya. Setelah anak terbiasa dan asyik bermain bersama teman-temannya niscaya ia akan lupa pada ketiadaan Anda.
Takut pada dokter
Pengalaman tidak menyenangkan saat disuntik, atau diperiksa membuat anak takut pada sosok dokter. Ditambah lagi bila sesekali Anda sempat menakut-nakutinya dengan figur dokter itu, misalnya: “Nanti disuntik dokter, kalau tidak mau makan.”Cara Mengatasi: Beri pengertian dan rasa aman pada anak ketika ia akan mengunjungi dokter. Biarkan anak membawa benda atau mainan kesayangannya. Di rumah, orang tua bisa membantu dengan menyediakan mainan perangkat dokter-dokteran. Biarkan anak menjalani peran dokter dengan boneka sebagai pasiennya. Lambat laun ketakutannya pada sosok dokter akan menghilang.
Takut hantu
Batita sebetulnya belum mengerti tentang hantu, jadi pengertian dan rasa takut pada hantu didapat dari proses pembelajaran, seperti; menonton film di televisi atau karena ditakuti-takuti.Cara Mengatasi: Jauhkan anak dari tontonan tentang hantu, dan hindari menakut-nakuti anak dengan sosok hantu.
Takut gelap
Takut pada gelap dikembangkan anak setelah memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan saat gelap. Bila pengalaman pahit itu membekas, bukan tidak mungkin rasa takutnya akan menetap hingga dewasa. Ungkapan rasa takut anak bisa bermacam-macam; keluar keringat dingin atau sesak napas setiap kali berada di ruang gelap atau menjerit-jerit kala listrik mendadak padam.Cara Mengatasi: Jika anak terlanjur merasa takut pada kegelapan, jangan menggelapkan kamarnya saat tidur malam. Paling tidak, biarkan lampu tidur yang redup tetap menyala. Cara lain, biarkan boneka atau benda kesayangannya tetap menemaninya, seolah bertindak sebagai penjaganya hingga anak tak perlu takut.
(conectique)









Leave a Reply