Down Syndrome
Down Syndrome / sindrom down merupakan kelainan kromosom yakni terbentuknya kromosom 21 (trisomy 21) akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan.
Kelainan yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental anak ini pertama kali dikenal pada tahun 1866 oleh Dr. John Longdon Down. Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia maka sering juga dikenal dengan Mongoloid.
Pada tahun 1970-an para ahli dari Amerika dan Eropa merevisi nama dari kelainan yang terjadi pada anak tersebut dengan merujuk penemu pertama kali syndrome ini dengan istilah Down Syndrome dan hingga kini penyakit ini dikenal dengan istilah yang sama.
Gejala
Tanda-tanda yang muncul akibat Down syndrome dapat bervariasi mulai dari yang tidak tampak sama sekali, tampak minimal sampai muncul tanda yang khas. Tanda yang paling khas pada anak yang menderita Down Syndrome adalah adanya keterbelakangan perkembangan fisik dan mental pada anak (Olds, London, & Ladewing, 1996).
Penderita sangat sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds).
Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar. Sementara itu lapisan kulit biasanya tampak keriput (dermatoglyphics). Kelainan kromosom ini juga bisa menyebakan gangguan atau bahkan kerusakan pada sistim organ yang lain. Pada sistem pencernaan dapat ditemui kelainan berupa sumbatan pada esophagus (esophageal atresia) atau duodenum (duodenal atresia). Apabila anak sudah mengalami sumbatan pada organ-organ tersebut biasanya akan diikuti muntah-muntah. Pada bayi baru lahir kelainan dapat berupa Congenital Heart Disease. Kelainan ini yang biasanya berakibat fatal di mana bayi dapat meninggal dengan cepat.
Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan Down Syndrome atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki resiko melahirkan anak dengan Down Syndrome lebih tinggi. Down Syndrome tidak bisa dicegah, karena merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlah kromosom 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti. Yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya Down Syndrom. Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu) atau amniocentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu.
Pemeriksaan diagnostik
Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan, antara lain:
- Pemeriksaan fisik penderita
- Pemeriksaan kromosom
- Ultrasonography
- ECG
- Echocardiogram
- Pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling)
Pengobatan
Sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi kelainan ini. Pada tahap perkembangannya, penderita Down Syndrome juga dapat mengalami kemunduran dari sistim penglihatan, pendengaran maupun kemampuan fisiknya mengingat tonus otot-otot yang lemah. Dengan demikian penderita harus mendapatkan support maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Pembedahan biasanya dilakukan pada penderita untuk mengoreksi adanya defek pada jantung, mengingat sebagian besar penderita lebih cepat meninggal dunia akibat adanya kelainan pada jantung tersebut.
Popularity: 44% [?]
No related posts.






Assalamua’alaikum….Salam Sejahtera..
semoga bapak selalu dalam lindungan dan rahmat Tuhan YME.
sebelumnya perkenankan saya untuk memperkenalkan diri, saya seorang perempuan yang saat ini sedang kuliah program doktor di sekolah pasca sarjana Univ Islam Negri Syarif Hidayatullah Ciputat (yang dulu lebih dikenal dengan sebutan IAIN). Membaca artikel bapak ini, saya jadi punya keinginan minta tolong sama bapak, karena saya sedang meneliti penanganan anak berkebutuhan khusus dalam dunia pendidikan, untuk kepentingan disertasi saya.
Mungkin bapak bisa membantu saya yang sedang membutuhkan informasi buku-buku atau penelitian yang bermutu untuk saya baca dan teliti berkenaan dengan anak berkebutuhan khusus, yang dalam penelitian saya, saya batasi pada anak down syndrome dan autis.
Saat ini saya hanya memiliki sedikit data tentang anak autisme, sedangkan untuk data down syndrome belum ada. yang saya dapatkan dari Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (yang berkantor di fatmawati) tidak begitu memadai.
Mungkin bapak ada informasi berharga yang bisa mempermudah saya mendapatkan data yang berkenaan dengan masalah ini.
sebelum dan sesudahnya atas perhatian bapak saya ucapkan terima kasih.
wassalam..
Assallamua’laikum, wrb……….
Saya orang tua seorang bayi berumur 10 bulan yang hingga samapi saat ini belum bisa bicara dan baru bisa tengkurap. Dokter bilang anak saya mengalami down syndrome. Perlu diketahui saat lahir di sesar karena posisi sungsang dan umur kami sekitar 40tahun.
Pertanyaan saya bagaimana cara menangani anak yang mengalami gangguan down syndrome? terapi apa yang tepat dilakukan dan pengobatan yang bagaimana serta obat apa yang tepat dilakukan? Dimana tempat terapi penaganan secara tepat. mengingat kami tinggal di kota Samarinda Kalimantan Timur tidak ada tempat khusus penanganan anak mengalami down syndrome. sampai kapan penanaganan masalah tersebut. apakah down syndrome dapat sembuh seperti anak normal atau mendekati normal. berapa biaya penaganan masalah tersebut. terus terang kami termasuk keluarga ekonomi pas-pasan. Demikian yang kami sampaikan dan mohon informasinya. wassalam…
komunitas orang tua (support group) down syndrome di indonesia
ISDI (Ikatan Sindroma Down Indonesia) http://www.isdijakarta.org/about2.html
jalan cipaku 1 no 13, kebayoran baru, jakarta (021-7236591)
POTADS (persatuan orang tua anak dengan down syndrome)
jalan demuna 12, kompleks bri/cipete, jakarta selatan
milis
Assallamua’laikum, wrb……….
Saya orang tua seorang bayi berumur 4 bulan yang hingga samapi saat ini belum bisa bicara dan baru bisa tengkurap. Dokter bilang anak saya mengalami down syndrome. Perlu diketahui saat lahir normal tapi lahirnya di rangsang karna ketuban pecah duluan, umur kami 28 tahun.
Pertanyaan saya bagaimana cara menangani anak yang mengalami gangguan down syndrome? terapi apa yang tepat dilakukan dan pengobatan yang bagaimana serta obat apa yang tepat dilakukan? Dimana tempat terapi penaganan secara tepat. mengingat kami tinggal di kota tasikmalaya tidak tahu tempat khusus penanganan anak mengalami down syndrome. sampai kapan penanaganan masalah tersebut. apakah down syndrome dapat sembuh seperti anak normal atau mendekati normal. berapa biaya penaganan masalah tersebut. terus terang kami termasuk keluarga ekonomi pas-pasan. Demikian yang kami sampaikan dan mohon informasinya. wassalam…
[...] All About Down Syndrome Mar.28, 2010 in Psikologi Down Syndrome [...]